Tanggal : 22 April 2018
Pembicara : Bpk. Gembala
Ayat Pokok : Ulangan 9:25-29

Saat zaman Musa ketika ia memimpin bangsa Israel berjalan di padang gurun, bangsa Israel berulang kali melanggar firman Allah. Musa selalu berusaha membawa bangsa Israel untuk taat kepada Allah. Untuk kesekian kalinya, Musa sujud selama empat puluh hari empat puluh malam untuk memohon kepada Allah agar tidak memusnahkan bangsa Israel (Ulangan 9:25-29).

(Bilangan 11:4-15) Musa sempat menjadi labil, marah kepada Allah ketika Ia hendak menghukum bangsa Israel. Musa menganggap Tuhan jahat. Namun di sisi lain, Musa juga seringkali kecewa dengan bangsa Israel yang dipimpinnya. Musa seringkali mengeluh kepada Allah akan bangsa yang dipimpinnya.

Akhirnya, beban yang berat menyebabkan Musa melanggar perintah Allah. Pelanggarannya menyebabkan Musa tidak diperkenankan masuk Kanaan (Bilangan 20 2)

Sama seperti Musa, pemimpin-pemimpin masa kini seringkali menghadapi kondisi yang sulit. Menjadi pemimpin tidak mudah. Ketika Tuhan mengijinkan kondisi yang tidak sesuai dengan rencana kita, kita menjadi marah kepada Tuhan dan mundur dari pelayanan. Namun janganlah kita lupa, bahwa di luar Tuhan, kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5).

Ayub adalah anak Allah yang berhasil dan diperkenan Allah. Namun, Ayub tidak berhasil sebagai pemimpin keluarga, untuk membawa keseimbangan dalam keluarganya. (Ayub 1:1-6) Ayub membela anak-anaknya dengan mempersembahkan korban bakaran agar Tuhan tidak menjatuhkan hukuman kepada anak-anaknya. Ayub juga gagal menjadikan istrinya seimbang dengan dirinya yang tidak bercacat dan berkenan di hadapan Tuhan. Ketika Ayub berada di tengah-tengah pencobaan, istri Ayub menyuruhnya untuk mengutuki Allah (Ayub 2:9)

Pada akhirnya, Allah mengizinkan hal-hal buruk yang dihindari Ayub, justru terjadi atasnya. Harta Ayub habis dengan peristiwa yang Tuhan izinkan (Ayub 1:13-17). Anak-anak Ayub meninggal (Ayub 1:18-19). Ayub sendiri menderita sakit yang sangat parah (Ayub 2:1-8).

Masing-masing anggota keluarga Ayub memiliki andil menghancurkan berkat Ayub.

Sebagai Imam di dalam keluarga, kita bertanggung jawab memimpin keluarga kita untuk hidup berkenan di hadapan Tuhan. Ketika kita melihat anak-anak kita

melakukan sesuatu yang tidak sesuai kehendak Tuhan, kita harus menegur dan menasihati mereka dan membawa mereka kembali kepada Tuhan. Bila kita tidak melakukannya, Tuhan dapat mengizinkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Tuhan tidak menginginkan hal itu terjadi, namun Ia mengizinkannya terjadi untuk menyucikan keluarga kita.

Pintu penyucian yang terbuka atas Musa dan Ayub menjadi pelajaran bagi kita (1 Korintus 10:11). Sebagai anggota keluarga, marilah kita masing-masing menempatkan diri kita pada tempatnya, agar hidup berkenan di hadapan Tuhan

Amin, Tuhan Yesus memberkati.



Ibadah Umum, 2 Desember 2018

Tanggal : 2 Desember 2018
Pembicara :Bpk. Gembala
Ayat Pokok : Yohanes 21:1-13

(Markus 4:1) Tuhan Yesus berbicara dengan orang banyak di tepi danau. Demikian banyaknya orang, membuat Yesus harus berbicara dari atas perahu di tepi pantai.

(Lukas 5:1-11) Di tepi pantai danau Genezaret Yesus mengajar orang banyak dari atas perahu. Orang banyak yang tidak mau beranjak dari pantai, dilambangkan dalam pelajaran Tabernakel sebagai mereka yang tinggal di pelataran, yaitu mereka yang akan masuk aniaya besar di zaman antikris (Wahyu 12:17-18). Mereka adalah orang-orang kebanyakan, bagian dari sekumpulan besar orang yang gagal masuk gereja sempurna.

Read more ...

Ibadah Umum, 25 November 2018

Tanggal : 25 November 2018
Pembicara :Pdm. Bondan Abraham
Ayat Pokok : Kejadian 6:8-22

1. Nuh
(Kejadian 6:8-22) Nuh mendapat kasih karunia dari Tuhan karena Nuh hidup benar dan tidak bercela di hadapan Tuhan. Ia hidup intim dengan Tuhan.

Pada masa Nuh, ia hidup ditengah-tengah dunia yang rusak dan penuh dengan kekerasan. Di tengah kondisi seperti itu, tentunya banyak godaan dan masalah yang dihadapi Nuh untuk tetap hidup benar di hadapan Tuhan.

Read more ...

Ibadah Pelprip, 22 November 2018

Tanggal : 22 November 2018
Pembicara : Pdm. Bondan Abraham
Ayat Pokok : Ibrani 12:12-17

Didikan dan ajaran Allah terasa terlalu berat bagi sebagian orang. Dalam menjalani pertandingan iman, kita tidak harus menjalaninya sendiri. Kita harus saling mendukung antar sesama anak Tuhan. Kita berjalan bersama saling menguatkan tangan yang lemah dan lutut yang goyah.

Komsel dan wadah-wadah diadakan dengan tujuan agar kita dapat saling menguatkan antara sesama anak Tuhan. Dalam perlombaan iman, kita tidak akan kuat berjalan sendiri. Dalam kelompok kecil, kita juga saling menajamkan dan saling mengasah (Amsal 27:17). Kita juga bertekun dalam pengajaran firman Tuhan untuk saling menguatkan, saling mendukung, mengingatkan / menegur (Kisah 2:41-42,46, Ibrani 10:24-25)

Read more ...

INFORMASI IBADAH RUTIN

KOMSEL DOA

  • Senin, 10 Des 2018 di rumah ibu Loan, Villa Melati Mas
  • Rabu, 12 Des 2018 di lobby Gereja
  • Kamis, 13 Des 2018 DILIBURKAN

NATAL KAUM WANITA

  • Selasa, 11 Des 2018 pukul 16:00 di Gereja
DOA PUASA
  • Selasa, 11 Des 2018 DILIBURKAN
IBADAH RAYON
  • Jumat,, 14 Des 2018 DILIBURKAN

NB : Untuk Alamat Lengkap Bisa dilihat di Warta Jemaat / Hubungi Sekretariat Gereja

 

 
INFORMASI TAMBAHAN

PELAYANAN SOSIAL

 

Menerima Pakaian Layak Pakai untuk disalurkan kepada yang membutuhkan. Pakaian dikumpulkan di Sekretariat. Tuhan Memberkati.