Print
Category: Ibadah Umum
Hits: 320
Tanggal : 22 April 2018
Pembicara : Bpk. Gembala
Ayat Pokok : Ulangan 9:25-29

Saat zaman Musa ketika ia memimpin bangsa Israel berjalan di padang gurun, bangsa Israel berulang kali melanggar firman Allah. Musa selalu berusaha membawa bangsa Israel untuk taat kepada Allah. Untuk kesekian kalinya, Musa sujud selama empat puluh hari empat puluh malam untuk memohon kepada Allah agar tidak memusnahkan bangsa Israel (Ulangan 9:25-29).

(Bilangan 11:4-15) Musa sempat menjadi labil, marah kepada Allah ketika Ia hendak menghukum bangsa Israel. Musa menganggap Tuhan jahat. Namun di sisi lain, Musa juga seringkali kecewa dengan bangsa Israel yang dipimpinnya. Musa seringkali mengeluh kepada Allah akan bangsa yang dipimpinnya.

Akhirnya, beban yang berat menyebabkan Musa melanggar perintah Allah. Pelanggarannya menyebabkan Musa tidak diperkenankan masuk Kanaan (Bilangan 20 2)

Sama seperti Musa, pemimpin-pemimpin masa kini seringkali menghadapi kondisi yang sulit. Menjadi pemimpin tidak mudah. Ketika Tuhan mengijinkan kondisi yang tidak sesuai dengan rencana kita, kita menjadi marah kepada Tuhan dan mundur dari pelayanan. Namun janganlah kita lupa, bahwa di luar Tuhan, kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh 15:5).

Ayub adalah anak Allah yang berhasil dan diperkenan Allah. Namun, Ayub tidak berhasil sebagai pemimpin keluarga, untuk membawa keseimbangan dalam keluarganya. (Ayub 1:1-6) Ayub membela anak-anaknya dengan mempersembahkan korban bakaran agar Tuhan tidak menjatuhkan hukuman kepada anak-anaknya. Ayub juga gagal menjadikan istrinya seimbang dengan dirinya yang tidak bercacat dan berkenan di hadapan Tuhan. Ketika Ayub berada di tengah-tengah pencobaan, istri Ayub menyuruhnya untuk mengutuki Allah (Ayub 2:9)

Pada akhirnya, Allah mengizinkan hal-hal buruk yang dihindari Ayub, justru terjadi atasnya. Harta Ayub habis dengan peristiwa yang Tuhan izinkan (Ayub 1:13-17). Anak-anak Ayub meninggal (Ayub 1:18-19). Ayub sendiri menderita sakit yang sangat parah (Ayub 2:1-8).

Masing-masing anggota keluarga Ayub memiliki andil menghancurkan berkat Ayub.

Sebagai Imam di dalam keluarga, kita bertanggung jawab memimpin keluarga kita untuk hidup berkenan di hadapan Tuhan. Ketika kita melihat anak-anak kita

melakukan sesuatu yang tidak sesuai kehendak Tuhan, kita harus menegur dan menasihati mereka dan membawa mereka kembali kepada Tuhan. Bila kita tidak melakukannya, Tuhan dapat mengizinkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Tuhan tidak menginginkan hal itu terjadi, namun Ia mengizinkannya terjadi untuk menyucikan keluarga kita.

Pintu penyucian yang terbuka atas Musa dan Ayub menjadi pelajaran bagi kita (1 Korintus 10:11). Sebagai anggota keluarga, marilah kita masing-masing menempatkan diri kita pada tempatnya, agar hidup berkenan di hadapan Tuhan

Amin, Tuhan Yesus memberkati.